Rabu, 16 September 2015

Berita Sepak Bola : Skema Umpan Jauh Juve yang Menghentikan Rekor Tak Terkalahkan City

Berita Sepak Bola : Skema Umpan Jauh Juve yang Menghentikan Rekor Tak Terkalahkan City

sumber berita Skema Umpan Jauh Juve yang Menghentikan Rekor Tak Terkalahkan City : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/49e4d852/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C160C1529450C30A20A5540C1480A0Cskema0Eumpan0Ejauh0Ejuve0Eyang0Emenghentikan0Erekor0Etak0Eterkalahkan0Ecity/story01.htm
Hasil mengejutkan terjadi di Etihad Stadium kota Manchester. Manchester City, yang tampil impresif di liga domestik dengan menorehkan lima kemenangan tanpa satu kalipun kebobolan, kalah dari Juventus yang belum sekalipun menang di liga domestik.

Manchester City sebenarnya unggul lebih dulu lewat gol bunuh diri yang diciptakan oleh bek Juventus, Giorgio Chiellini. Namun Si Nyonya Tua –julukan Juventus- mampu membalas lewat gol yang dicetak oleh Mario Mandzukic dan Alvaro Morata. Manchester City pun takluk dari Juventus dengan skor 1-2.

Manchester City sendiri sempat mengunci permainan Juventus dengan pressing yang mereka lakukan. Namun, Juventus perlahan-lahan berhasil keluar dari tekanan dan mampu meladeni permainan Manchester City dengan umpan-umpan jauh yang mereka lepaskan.



Pressing yang Menghambat Juventus

Manchester City mendominasi permainan sepanjang laga. Penguasaan bola City mencapai 55% berbanding 45%. Total operan sukses yang dilepaskan skuat besutan Manuel Pellegrini ini mencapai 527 kali dengan Juve yang hanya 348 kali.

Keberhasilan City menguasai jalannya pertandingan adalah dengan melakukan pressing sedini mungkin ke pertahanan Juventus. Ketika pemain belakang Juve menguasai bola dan hendak melakukan serangan, empat pemain terdepan City menjaga ketat para pemain Juventus.

Keempat pemain City tersebut adalah Wilfried Bony, Raheem Sterling, David Silva, dan Samir Nasri. Sementara Fernandinho dan Yaya Toure menjadi perebut bola saat aliran serangan Juventus mengarah ke tengah lapangan, pada Paul Pogba ataupun Stefano Sturaro.



Skema bertahan City seperti ini membuat para pemain bertahan Juventus tak leluasa berlama-lama dengan bola ataupun memberikan operan pada para gelandang. Pada akhirnya, Juve cukup sering memberikan umpan-umpan panjang langsung ke depan.

Pada babak pertama, skema ini pun tiga kali menghasilkan peluang emas bagi City. Fernandinho mencatatkan dua tekel berhasil dan Yaya Toure sekali. Namun kiper sekaligus kapten Juventus, Gianluigi Buffon, bermain gemilang dengan selalu berhasil mengagalkan peluang City tersebut.

Pressing seperti ini tak dilakukan oleh Juventus. Untuk bertahan, Juve lebih memilih untuk sesegera mungkin mundur dan mengisi area bertahan Juve. Inilah yang membuat City menguasai jalannya pertandingan.

Saat City menguasai bola, para pemain Juve cenderung tak melakukan tekel-tekel agresif. Dengan perubahan formasi saat menyerang 4-3-3 ke 4-5-1 saat bertahan, hanya Mario Mandzukic yang lebih sering memberikan tekanan sedini mungkin.

Morata dan Cuadrado langsung berdiri sejajar dengan trio gelandang Juventus; Hernanes, Sturaro, dan Pogba. Kelima pemain ini kemudian hanya menunggu datangnya bola sambil membayangi pemain City yang berada di dekatnya.

Menghadapi skema bertahan Juve yang seperti ini, City menggunakan tempo lambat kala menyerang. Operan-operan pendek di tengah diperagakan sambil menunggu momen yang tepat untuk mengirimkan umpan ke sepertiga akhir pertahanan Juve.

Namun hanya sisi kiri City yang lebih sering berhasil menembus pertahanan Juve. Lewat Aleksandar Kolarov dan Sterling, sisi kanan pertahanan Juventus cukup kewalahan menghadapi serangan City. Namun serangan ini sering kandaskan oleh ketangguhan Buffon.

Juventus Keluar dari Tekanan

Namun dominasi permainan City hanya bertahan pada babak pertama saja. Pada babak kedua, Juve mulai berhasil keluar dari tekanan dan membuat pertandingan berjalan berimbang dengan kedua kesebelasan yang saling jual-beli serangan.

Juventus yang pada babak pertama hanya berhasil melepaskan tiga tembakan, lebih memiliki banyak peluang pada babak kedua dengan tambahan tujuh tembakan. Sementara City yang pada bababk pertama melepaskan delapan tembakan, hanya menambah enam tembakan pada babak kedua.

Aliran serangan Juve mulai membaik setelah Hernanes lebih dimundurkan pada babak kedua. Jika pada babak pertama Hernanes lebih sering menunggu di depan untuk menerima bola bersama Morata, Cuadrado dan Mandzukic, pada babak kedua Hernanes lebih rajin mencari bola hingga mendekati Bonucci dan Chiellini di lini pertahanan.



Pada gambar di atas, terlihat Hernanes menjadi gelandang yang lebih mendekati bola ketimbang Pogba atau Pogba seperti pada babak pertama. Dengan begini, pressing Man City mulai berhasil ditaklukkan. Pada gambar di atas terlihat bahwa Bony dan Silva harus melakukan pressing pada tiga pemain Juventus; Bonucci-Chiellini-Hernanes.

Hernanes sendiri sebenarnya jarang langsung mendapatkan operan dari Buffon. Buffon tetap lebih dulu mengalirkan bola pada Bonucci atau Chiellini. Hanya saja dengan adanya Hernanes, Juve mendapatkan tambahan personil untuk mengalirkan operan.

Salah satu dari Fernandinho dan Yaya Toure pun terlalu berisiko untuk mengikuti pergerakan Hernanes. Keduanya pun lebih memilih untuk menjaga Pogba dan Sturaro seperti yang terjadi pada babak pertama.

Efektivitas Umpan Jauh Juventus

Manchester City unggul lebih dulu lewat servis bola mati yang berujung gol bunuh diri Chiellini. Tapi secara skema penyerangan, sebenarnya City mulai menemui kebuntuan pada babak kedua. Peluang-peluang yang diciptakan Manchester City lebih karena aksi individu para pemainnya, seperti tendangan jarak jauh Yaya Toure, misalnya.

Hal ini dikarenakan Juventus pun mengubah cara bertahan mereka. Jika pada babak pertama saat bertahan Juve menggunakan formasi 4-5-1, pada babak kedua Juve menggunakan formasi 4-4-2 saat bertahan. Pogba dan Cuadrado menjadi gelandang di kedua sisi, sementara Mandzukic dan Morata tetap berada di tengah lapangan atau di depan.

Tujuan dilakukan perubahan ini tampaknya untuk mengakomodasi perubahan serangan Juventus yang hendak melepaskan umpan-umpan panjang pada babak kedua. Pada babak kedua, Juventus memang mulai terlihat mengandalkan keunggulan-keunggulan duel udara dari para pemainnya.

Dari total 29 duel udara pada laga ini, 16 di antaranya berhasil dimenangkan oleh pemain Juventus. Pada babak kedua, keberhasilan duel udara Juve lebih dari setengahnya atau lebih tepatnya mencapai angka sembilan.

Umpan-umpan panjang memang mulai rajin diberikan oleh para pemain belakang ataupun gelandang Juventus pada babak kedua. Hal ini dilakukan untuk mengakali hilangnya penyambung aliran serangan dari tengah ke depan karena sering mundurnya Hernanes.

Tapi ternyata skema ini berhasil. Gol pertama Juventus yang diciptakan Mandzukic, bermula dari umpan jauh yang dilepaskan Pogba. Gol ini pun sekaligus menunjukkan kejelian Pogba yang melihat Mandzukic berada di blind area Mangala.


[Momen sebelum terjadinya gol Mandzukic]

Pada gambar di atas, terlihat Hernanes yang berada di posisi jauh dari kotak penalti. Sementara Sturaro yang naik membantu penyerangan, berada di dekat Yaya Toure. Belum lagi terdapat Fernandinho dan Silva di depan Pogba, jika memberikan umpan mendatar pada Sturaro, tak menutup kemungkinan Fernandinho, Silva dan Toure akan mengepung Sturaro. Karenanya, umpan melambung menjadi pilihan yang tepat.

Pada gol kedua pun bermula dari umpan panjang. Kali ini umpan panjang dilepaskan oleh Bonucci yang hendak memanfaatkan flank di sisi kiri. Umpan inilah yang kemudian menimbulkan kekacauan di lini pertahanan City.


[Momen sebelum terjadinya gol Morata]

Bonucci awalnya hendak memberikan umpan jauh pada Cuadrado untuk berduel dengan Kolarov. Di saat bersamaan, Morata yang tengah dijaga Nicola Otamendi (masuk menggantikan Kompany) ikut bergerak ke sisi kanan.

Pergerakan Morata ini menimbulkan celah di area tengah. Dan bola hasil umpan Bonucci tersebut ternyata membentur punggung Kolarov dan memantul ke area tengah tersebut. Unggul langkah, Morata kemudian melepaskan tembakan dengan kaki kirinya tanpa gangguan berarti dari Otamendi.

Jika saja Otamendi dan Mangala berkordinasi dengan baik, gol ini mungkin bisa dihindari. Saat Morata bergerak ke kanan, Otamendi bisa melepaskan penjagaannya dan menyerahkannya pada Mangala. Dengan begitu, Otamendi bisa tetap berada di posisinya untuk meminimalisir insiden seperti ini.

Kesimpulan

Catatan tak terkalahkan Manchester City pada musim ini berhasil dikandaskan oleh Juventus yang berhasil memanfaatkan skema operan panjang pada babak kedua. Dua gol Juventus pun dicetak lewat proses yang dimulai dengan operan umpan jauh menjadi bukti efektivitas skema ini.

City sendiri sebenarnya melakukan sejumlah perubahan taktik seperti ketika memasukkan Kevin De Bruyne setelah gol Mandzukic, dan mengubah skema menjadi dua penyerang saat memasukkan Sergio Aguero menggantian Nasri setelah gol kedua Juventus. Namun itu belum berhasil mengagalkan kemenangan pertama Juventus pada musim ini.


====

* Dianalisis oleh @panditfootball, profil lihat di sini.


Nuhun for visit Skema Umpan Jauh Juve yang Menghentikan Rekor Tak Terkalahkan City

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar