Kamis, 17 September 2015

Berita Sepak Bola : Mengurangi Harapan pada Pemain Muda

Berita Sepak Bola : Mengurangi Harapan pada Pemain Muda

sumber berita Mengurangi Harapan pada Pemain Muda : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/49edca3f/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C170C16150A0A0C30A217680C14970Cmengurangi0Eharapan0Epada0Epemain0Emuda/story01.htm
Malang nian Freddy Adu. Entah apa salahnya sehingga ia kerap menjadi simbol atas setiap kegagalan pemain muda. Nama Adu seperti tak pernah lepas didengungkan saat seorang pemain muda gagal memenuhi ekspektasi media.

Media memang kejam. Seperti yang mereka lakukan pada Miley Cyrus hingga Lionel Messi, Adu merasakan kekejaman itu lebih awal.

Sejumlah media sepakbola pada awal 2000-an menggambarkan betapa Amerika Serikat tengah menyongsong kemajuan sepakbola yang ditandai dengan banyaknya ibu yang mengirim anaknya bermain bola. Ibu-ibu yang penuh gairah tersebut dijuluki "Soccer Mom" yang kemudian menginisiasi ibu-ibu lainnya untuk melakukan hal serupa.

Lalu, media pun mengangkat nama Freddy Adu ke permukaan. Mereka memujanya setinggi langit. Apalagi Adu adalah pemain berkulit hitam yang seolah mewakili kelompok minoritas yang kerap tertindas di Amerika Serikat. "Pemain kulit hitam saja bisa, mengapa kita tidak?" itu barangkali yang ada dalam benak mereka.

Adu pun dipertemukan dengan legenda sepakbola Brasil, Pele. Bahkan, Pele menyanjung Adu dan mengatakan kalau pemuda kelahiran 1989 tersebut bisa mengikuti jejak langkahnya. "The Next Pele", begitu kata orang-orang.

Karier profesional Adu terlihat mulus dengan menandatangani kontrak profesionalnya pada usia 15 tahun. Kesebelasan tempatnya bernaung pun tidaklah murahan: DC United!

Namun kenyataan tak seindah khayalan. Mentalnya masih dianggap belum berkembang, fisiknya masih belum bisa bersaing. Adu pun malah berakhir di Finlandia, Serbia, dan Brasil. Bakatnya bahkan sempat ditelantarkan dengan tak memiliki klub. Kini Adu kembali ke Amerika Serikat, bergabung dengan Tampa Bay Rowdies, sebuah nama kesebelasan yang asing karena hanya berlaga di kompetisi tingkat kedua Amerika Serikat, NASL.

Tekanan Besar Pemain Muda

Tekanan besar kepada pesepakbola membuat mereka mesti menjaga sikap. Pesepakbola adalah figur masyarakat yang segala perilakunya bisa saja ditiru oleh orang lain. Jack Wilshere yang kedapatan merokok --meskipun itu di ruang privat-- dikritik habis-habisan oleh media Inggris karena banyak anak-anak yang mengidolakannya.

Namun, yang paling parah tentu tekanan berlebihan kepada pemain muda. Adu masih beruntung karena meskipun terbilang gagal menapaki karier di level tertinggi sebagai pesepakbola, tapi ia masih mendapat perhatian luas dari masyarakat. Coba bandingkan dengan Chris Kirkland, Michael Johnson, Giovanni dos Santos, hingga Cherno Samba. Apa nama-nama tersebut membuat Anda de javu? Atau jangan-jangan belum pernah mendengar nama mereka sama sekali?

Ya, mereka bernasib mirip. Sejak remaja media menaruh ekspektasi yang kelewat besar untuk pemain semuda itu. Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang bisa kita harapkan dari seorang anak yang mestinya baru lulus SMA? Mengapa ia harus jauh lebih baik ketimbang pemain yang sudah berlatih dan merasakan ketatnya kompetisi selama lebih dari lima tahun?

Memang, sejumlah pemain muda macam Wayne Rooney, Neymar --tentu Messi dan Ronaldo-- sudah mencuri perhatian sejak usianya belasan, dan kini menjadi bintang yang bersinar. Namun, ada berapa banyak Messi dan Ronaldo lain di luar sana? Tentu tak setiap tahun kita bisa melihat bakat-bakat macam keduanya kembali terlahir di atas lapangan. Berapa tahun waktu yang diperlukan untuk menggeser Messi dan Ronaldo sebagai dua terbaik dalam raihan pemain terbaik dunia? Sejak 2008 tampaknya belum ada.

Tak Perlu Harapan

Salah seorang pemain muda yang kariernya rentan hancur karena tekanan media adalah Martin Odegaard. Usianya masih 16 tahun saat ia direkrut Real Madrid. Odegaard memang istimewa. Pada usia 15 ia mencetak rekor sebagai pemain paling muda dalam debut kompetitif di timnas Norwegia. Namun, keistimewaannya tersebut membuat media terlampau berharap.

Saat direkrut Madrid, Odegaard ditempatkan di tim Castilla. Baru beberapa pekan, Odegaard keberatan berlatih dengan tim Castilla dan ingin bergabung dengan tim utama. Namun, penampilan Odegaard di Castilla tak kunjung meyakinkan. Alasannya tak lain karena Odegaard berlatih di tim utama, tapi main di Castilla.

Pelatih Madrid kala itu, Carlo Ancelotti, bahkan meminta penggemar bersabar dengan penampilan Odegaard. Ancelotti beranggapan perbedaan budaya dan bahasa sedikit memengaruhi penampilan Odegaard. Ancelotti pun pada akhirnya memainkan Odegaard dalam pertandingan menghadapi Getafe. Ia pun menjadi debutan termuda sepanjang sejarah Madrid.
Apa yang dilakukan Ancelotti bukan karena ia membutuhkan permainan Odegaard. Kala itu Madrid tengah mendominasi pertandingan dan mustahil terkalahkan. Skor akhir pun menunjukkan 7-3 untuk kemenangan Madrid.

Dimasukkannya Odegaard ke tim utama membuat sejumlah penggemar mengerutkan dahi. Penampilan Odegaard memang menonjol tapi seperti kehilangan arah. Barangkali ini yang dimaksud tim pelatih DC United soal "kekurangan mental" pada kasus Freddy Adu.

Pun halnya saat menyaksikan penampilan Odegaard di timnas. Odegaard bermain begitu menonjol. Ia bahkan tak takut saat beradu fisik dengan pemain lawan yang tubuhnya jauh lebih besar. Namun, terdapat sejumlah momen ketika Odegaard mengambil keputusan yang tidak tepat. Andai Odegaard adalah Mesut Oezil barangkali sudah tercipta sejumlah assist.

Pemilihan keputusan dan timing pemberian umpan menjadi hal yang krusial bagi seorang gelandang. Terutama apabila ia ditugaskan sebagai pengatur serangan. Hal ini yang masih perlu diasah dari Odegaard, karena lawan yang dihadapinya adalah mereka yang 10 tahun berlatih dan berpengalaman di tim utama, bukan lagi anak SSB yang seumuran dengannya.
Merusak Harapan

Terdapat nuansa dalam kriteria "bagus" dan "buruk" perihal penilaian pemain sepakbola. Buat sebagian orang Claude Makalele tak lebih sebagai pemain kelas dua di tim utama Madrid, buat sebagian lain, ia adalah motor serangan tim yang perannya tak akan tergantikan.

Namun, tidak bagi tim pelatih yang punya kemampuan evaluasi dan memberikan keputusan. Bagus dan buruk adalah hal yang mutlak. Kegagalan bisa membuat sang pemain tersingkirkan.

Setelah pembuktian, jika kualitas Odegaard hanya begitu-begitu saja, bukan tidak mungkin tim pelatih mencampakkannya ke tim cadangan, hingga tak memainkannya sama sekali. Kerapuhan mental bisa jadi penyakit yang sulit disembuhkan yang membuat penampilan sang pemain tak kunjung membaik. Hal paling buruk tentu saat tak ada kesebelasan lain yang meminati bakatnya.

Di usia semuda Odegaard, ia mestinya terus berlatih sesuai dengan kategori umurnya, dan menjadi dewasa pada waktunya.

Tentu bukan cuma Odegaard. Debutan Manchester United, Anthony Martial pun serupa. Dengan nilai transfer yang kelewat mahal, bukan cuma fans yang menantikan penampilannya, tapi juga hater Manchester United di seluruh dunia.

Beruntung Martial mampu mencetak gol, terlepas dari bagus atau buruknya ia di pertandingan tersebut. Gol menjadi sebuah tolok ukur bagi pesepakbola untuk membuktikan kapasitasnya. Usai pertandingan, Martial menuai puja dan puji. "That boy can play. That boy can play!" ulang komentator televisi.

Mengurangi Tekanan

Kurang hebat apa Freddy Adu yang saat usianya masih 14 tahun tapi sudah memberikan assist di Piala Dunia U-20? Tapi mengapa Jozy Altidore, rekan setimnya di tim U-20, masih dipanggil timnas Amerika Serikat sedangkan Adu tidak? Padahal siapa yang dulu mengenal Altidore?

Hal serupa juga dialami skuat Inggrus U21 yang pada awalnya lepas dari tekanan media. Lalu, video latihan mereka tersebar dan betapa senangnya masyarakat Inggris melihat para penggawa yang mereka sendiri tak kenal, bermain begitu gemilang.

Saido Berahino punya tendangan chip yang memukau, Patrick Bamford punya tendangan voli yang keras dan terarah. Belum lagi Alex Pritchard yang postur tubuhnya paling pendek tapi punya kemampuan menggiring bola macam Jack Wilshere.



Lalu mengapa Inggris gagal total di Piala Eropa U21? Apakah ini salah penyebar video latihan tersebut yang membuat media berharap lebih? Jika itu jawabannya, yang salah adalah FA, karena video tersebut diunggah akun resmi FA.

Padahal siapa Bamford dan Pritchard? Keduanya, saat itu, cuma main di Divisi Championship, tingkat kedua dalam piramida kompetisi Inggris. Bagaimana bisa media dan fans mengharapkan keduanya menjadi jauh lebih baik dari para pemain muda Portugal dan Swedia yang mayoritas main di liga utama?

Pertanyaannya adalah mengapa kita, para penonton dan media, mengharapkan para pemain muda untuk selalu bermain sesuai dengan harapan? Bukankah—menurut pemandu bakat Football Manager—tingkat kejayaan dan kejelian seorang pemain ada jelang usia 30? Bahkan, seorang kiper baru menikmati masa kejayaannya setelah usia 30 tahun.

Apa yang kita harapkan dari seorang yang baru lulus SMA? Mengapa kita terlalu berharap pada Bojan Krkic untuk bisa satu level dengan Ronaldinho?

Apa mungkin pesepakbola masa kini (dipaksa) tumbuh lebih dewasa ketimbang usianya, macam anak baru masuk SMA tapi punya postur tubuh mirip mahasiswa tingkat dua? Diakui atau tidak, paksaan itu tumbuh dari keinginan kita: fans dan media.


====

* Akun twitter penulis: @Aditz92 dari @panditfootball


Nuhun for visit Mengurangi Harapan pada Pemain Muda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar