Selasa, 15 September 2015

Berita Sepak Bola : Manchester United: Dominasi Tanpa Insting Membunuh

Berita Sepak Bola : Manchester United: Dominasi Tanpa Insting Membunuh

sumber berita Manchester United: Dominasi Tanpa Insting Membunuh : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/49e20ca8/sc/12/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C160C0A715120C30A198880C14820Cmanchester0Eunited0Edominasi0Etanpa0Einsting0Emembunuh/story01.htm
Manchester United sudah sering mendominasi jalannya pertandingan, tapi mengakhirinya tanpa raupan poin penuh. 'Setan Merah' boleh mendominasi, tapi tak punya insting membunuh.

Ambil contoh ketika bermain imbang 0-0 dengan Newcastle United pada pekan ketiga Premier League. Pada laga tersebut, United benar-benar mengurung pertahanan The Magpies, tapi tak mampu menembus pertahanan kokoh tim besutan Steve McClaren itu. Selain kesulitan untuk melakukan penetrasi, United juga acapkali kehabisan ide di sepertiga akhir lapangan.

Masalah yang sama juga terjadi pada pekan keempat, ketika mereka bertandang ke markas Swansea City. United tampil menekan, tapi dipukul balik oleh serangan balik The Swans. Unggul 1-0, United tak mampu menciptakan gol kedua dan akhirnya takluk 1-2 di tangan tim asal Wales tersebut.

The Red Devils tampil lebih baik ketika menjamu Liverpool di Old Trafford akhir pekan lalu. Sempat loyo di babak pertama, manajer mereka, Louis van Gaal, akhirnya memasukkan Ashley Young di awal babak kedua. Young, yang masuk menggantikan Memphis Depay, bisa bermain lebih direct --tanpa basa-basi-- dan menawarkan kecepatan yang dibutuhkan United.

Masuknya Young membuat United mendapatkan momentum. Mereka kemudian unggul 1-0 dan laga menjadi lebih terbuka setelahnya. United pun menang 3-1.

Dengan bekal rasa percaya diri usai menaklukkan Liverpool, United datang ke markas PSV Eindhoven untuk melakoni matchday I fase grup Liga Champions.

Ada yang sedikit berbeda dari skema United pada laga tersebut. Biasanya, United mengandalkan dua gelandang tengah untuk melindungi back-four sekaligus memberikan balance pada permainan mereka. Pos dua gelandang tengah tersebut biasanya ditempati oleh Bastian Schweinsteiger-Michael Carrick atau Schweinsteiger-Morgan Schneiderlin. Balance atau keseimbangan inilah yang kemudian membuat permainan United menjadi lebih rigid dan kaku di Premier League.

Pada laga melawan PSV, Van Gaal memutuskan untuk menduetkan Schweinsteiger dengan Ander Herrera. Berbeda dengan Carrick ataupun Schneiderlin, Herrera punya gaya main yang lebih dinamis. Sebagai gelandang tengah, ia juga kerap beroperasi di sepertiga akhir lapangan dan membantu melakukan serangan.

Di luar itu, Van Gaal juga memasang Memphis dan Young untuk mengapit Martial di lini depan. Juan Mata, yang sejak musim lalu kerap dipasang di sebelah kanan oleh Van Gaal, dikembalikan ke pos aslinya sebagai "nomor 10" di belakang penyerang.

Melihat skema susunan pemain tersebut, terbaca bahwa Van Gaal membidik kemenangan dan berniat untuk tidak tampil kaku seperti biasanya. Hal ini kemudian terbukti. Berbeda dengan babak pertama melawan Liverpool, permainan berlangsung terbuka sejak awal.

Sialnya buat United, ketika mereka memutuskan untuk bermain luwes dan lugas, lini belakang mereka menjadi gampang terekspos. PSV melakukan apa yang hendak dilakukan oleh Liverpool akhir pekan lalu: bermain cepat dengan formasi 4-3-3 seraya menunggu serangan balik. Tetapi, berbeda dengan Liverpool (baca: Brendan Rodgers) yang menempatkan seorang playmaker dan seorang penyerang murni sebagai penyerang sayap, pelatih PSV, Phillip Cocu, benar-benar memasang penyerang sayap di kanan dan kiri.

Luciano Narsingh yang ditempatkan di sisi kanan dan Maxime Lestienne yang ditempatkan di sisi kiri, benar-benar menjadi momok lini belakang 'Setan Merah'. Awalnya, keduanya sempat berulang kali melakukan kesalahan dengan terjebak offside. Namun, lama-lama mereka berhasil menemukan ritme.

Hasilnya, Lestienne mengawali terciptanya gol pertama PSV --yang dicetak oleh Hector Moreno-- lewat sepak pojok dan memberikan assist untuk gol yang dicetak Narsingh.

United, dan Van Gaal, seakan mengalami deja vu, seolah-olah mereka tengah menghadapi Swansea sekali lagi. Bedanya, ketika itu Swansea tidak bermain dengan formasi 4-3-3, melainkan menyerang balik dengan formasi 4-3-1-2 yang rapat. Tapi, mengingat tiga lawan terakhir United --Swansea, Liverpool, dan PSV-- melakukan hal yang nyaris-nyaris sama, United agaknya sudah harus berhati-hati.

Absurdnya, berada dalam situasi yang seperti deja vu, mereka malah melakukan hal yang juga persis sama: mengandalkan umpan lambung untuk keluar dari kebuntuan. Van Gaal memilih memasukkan Marouane Fellaini dengan tujuan untuk menyambut bola-bola atas dan Antonio Valencia untuk melakukan tusukan dari kanan atau melepas umpan. Tidak ada satu pun dari keduanya yang efektif, Valencia bahkan tidak sekali pun melepas umpan akurat.

Plan B yang buruk dari Van Gaal menambah masalah awal, yakni buntu dan kurang kreasinya United ketika menghadapi pertahanan lawan yang kokoh dan buruknya mereka di final ball. Usai pertandingan, Van Gaal sendiri mengakui bahwa timnya kurang insting membunuh.

"Ketika Anda unggul 1-0, dan setelahnya mencetak gol kedua, maka pertandingan selesai. Ini salah kami sendiri karena kami menciptakan begitu banyak peluang. Setelah laga melawan Tottenham Hotspur (di pekan pertama Premier League, red), saya menekankan pentingnya untuk mencetak lebih dari satu gol ke gawang lawan. Malam ini, kami bisa saja menciptakan banyak gol, tapi akhirnya selalu seperti ini. Tiba-tiba saja mereka mencetak gol entah dari mana."

"Kami selalu mendominasi semua pertandingan musim ini, kecuali ketika menghadapi PSG di pramusim. Pada laga lain, kami menciptakan lebih banyak peluang, tapi kalah," ujar Van Gaal di situs resmi klub.

Situs resmi UEFA mencatat, PSV hanya memenangi penguasaan bola sebanyak 38%, sisa 62% adalah penguasaan bola United. Selain itu, PSV juga hanya membuat 6 percobaan untuk mencetak gol sepanjang laga, sedangkan United jauh lebih banyak: 17.

Jelas ada PR besar untuk si meneer.

====

*penulis adalah wartawan detikSport, beredar di dunia maya dengan akun @Rossifinza.




Nuhun for visit Manchester United: Dominasi Tanpa Insting Membunuh

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar