Rabu, 12 Agustus 2015

Berita Sepak Bola : Jurnalisme Sepakbola yang Berutang pada James Catton

Berita Sepak Bola : Jurnalisme Sepakbola yang Berutang pada James Catton

sumber berita Jurnalisme Sepakbola yang Berutang pada James Catton : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/48f14b05/sc/3/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A80C130C110A80A50C2990A8250C14970Cjurnalisme0Esepakbola0Eyang0Eberutang0Epada0Ejames0Ecatton/story01.htm
Sepakbola era modern tak bisa dipisahkan lagi dari media massa. Hanya karena pertandingan sudah selesai, bukan berarti tak layak untuk dibicarakan kembali. Untuk memahami fenomena ini, kita harus mengingat satu nama: James Catton.

Jurnalisme sepakbola berutang banyak pada James Catton karena tanpanya sepakbola tak akan mendapat porsi yang berarti dalam ruang pemberitaan.

James Alfred Henry Catton lahir di Greenwich, Kent, pada tanggal 6 April 1860 dari pasangan Thomas dan Emma Catton. Ayahnya, Thomas, dikenal sebagai tutor matematika dan masuk ke dalam golongan menengah ke atas. Setelah menikah, keduanya tinggal di Greenwich, timur London, sampai James berusia 10 tahun. Entah apa yang menjadi latar belakangnya, keduanya memutuskan untuk hijrah ke Lewisham yang masyhur dengan olahraga kriket.

Walau akhirnya James memilih menekuni jurnalistik sepakbola, ia sempat menghabiskan beberapa tahun untuk belajar ilmu kedokteran. Setidaknya ada dua faktor yang membuatnya mengambil keputusan untuk berhenti dari dunia medis. Pertama, faktor keluarga dan lingkungan. Tumbuh di lingkungan yang menggemari kriket, olahraga ini pun pada akhirnya menjadi semacam permainan wajib buat keluarga Catton. Tak hanya mengikuti pertandingan, biasanya saat makan bersama, Thomas dan anak istrinya juga kerap membicarakan kriket. Pun saat membaca suratkabar. Ia selalu mendahulukan membaca laporan-laporan singkat pertandingan sebelum membaca kolom lainnya.

Kedua, periode ekspansi suratkabar Inggris sekitar tahun 1870-an. Kalau melihat sejarah, sebelum tahun 1855, London menjadi satu-satunya kota di Inggris yang memiliki suratkabar. Namun mulai tahun 1872, perkembangan suratkabar di Inggris semakin melesat. Tercatat di tahun tersebut, terdapat 91 suratkabar yang berasal dari kota-kota di luar London. Jumlah tersebut naik menjadi 159 pada tahun 1892.

Munculnya suratkabar-suratkabar murah juga semakin menyemarakkan pertumbuhan jurnalisme Inggris. Koran malam pada 1872 berkisar 22 judul, namun jumlah ini bertambah menjadi 85 pada tahun 1892. Koran-koran mingguan juga tak mau kalah. Jumlahnya meningkat dari 400 judul pada tahun 1856 menjadi 2.072 judul pada tahun 1900. Jika diakumulasikan, pada tahun 1920, jumlah penjualan suratkabar mencapai 5.6 miliar dollar. Angka ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan penjualan tahun 1851 yang hanya mencapai 85 juta dollar.

Pertumbuhan industri suratkabar yang melahirkan peluang menggiurkan ini membikin keluarga Catton melupakan cita-citanya untuk menyekolahkan anak tunggalnya sebagai dokter. Pada tahun 1875, James mencoba peruntungannya sebagai karyawan magang di salah satu koran dwi-mingguan, Preston Herald. Konon sebagai karyawan magang, Catton mampu menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.

Untuk diketahui, suratkabar Herald terbit setiap hari Rabu dengan harga 1 sen dan Sabtu dengan harga 2 sen. Herald yang pertama kali terbit tahun 1855 diduga kuat merupakan pesaing beberapa suratkabar yang telah lebih dulu membangun nama besarnya, seperti TheChronicle, The Pilot dan The Guardian.

Walaupun masih berstatus magang, James cukup berani dalam meramu dan melaporkan berita. Sebagai jurnalis magang, salah satu tulisan paling menarik yang pernah dibuat James adalah laporan tentang kerusuhan industri tekstil (kapas) pada tahun 1878. Waktu itu kutipannya yang berbunyi “Dragoons and Lancers were patrolling some high roads” dinilai terlalu berani dalam menggambarkan kemarahan buruh yang begitu hebat sampai-sampai mereka nekat membakar pemukiman pemilik pabrik kapas Blackburn.

Beberapa waktu kemudian, Catton mulai aktif sebagai jurnalis olahraga. Pada saat kedatangan Catton pertama kali di Herald, kolom olahraga di suratkabar tersebut cukup terabaikan. Laporan yang disajikan benar-benar seadanya. Semacam merefleksikan bahwa di zaman tersebut, olahraga hanyalah hiburan standar yang tak perlu digali dalam-dalam. Yang paling penting, orang-orang tahu siapa yang menang dan kalah. Yang paling utama, para pembaca tahu skor akhir dari setiap pertandingan sepakbola maupun kriket.
Nuhun for visit Jurnalisme Sepakbola yang Berutang pada James Catton

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar