Selasa, 22 September 2015

Berita Sepak Bola : Fenomena Kelangkaan Penyerang

Berita Sepak Bola : Fenomena Kelangkaan Penyerang

sumber berita Fenomena Kelangkaan Penyerang : http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656101/s/4a15f308/sc/19/l/0Lsport0Bdetik0N0Csepakbola0Cread0C20A150C0A90C230C1113330C30A264460C14970Cfenomena0Ekelangkaan0Epenyerang/story01.htm
Ketika Manchester United mendatangkan Anthony Martial dari AS Monaco, banyak yang mempertanyakan transfer tersebut. Bukan soal kemampuan si pemain, melainkan biaya yang dikeluarkan MU untuk membeli Martial.

Uang sebesar 36 juta poundsterling untuk seorang pemain berusia 19 tahun, yang jelas-jelas belum memiliki banyak pengalaman bermain di kompetisi level tertinggi di Eropa.

Namun mungkin MU memang tak punya pilihan lain. Mereka sangat membutuhkan penyerang baru, karena hanya punya Wayne Rooney, sedangkan Robin van Persie dan Javier Hernandez sudah hengkang. Jadi, demi memenuhi kebutuhan itu, tak apalah harus keluar uang sangat banyak.

Masalah kekurangan penyerang memang sedang melanda banyak klub Eropa. Saat ini, bisa dibilang penyerang menjadi makhluk yang sangat langka di Eropa. Masih sulit bagi kesebelasan-kesebelasan Eropa untuk menghasilkan penyerang-penyerang berkualitas dari akademi yang mereka punya.

Karena itu, kebanyakan klub Eropa yang memiliki penyerang berkualitas pun mati-matian mempertahankan penyerang yang mereka punya. Sedangkan tim yang sedang membutuhkan penyerang akan melakukan segala macam cara untuk mendapat penyerang baru. Makanya, wajar, jika harga seorang penyerang menjadi begitu mahal.

Tim sekelas West Bromwich saja berani menahan Saido Berahino. Tawaran 24 juta poundsterling dari Tottenham Hotspur tidak membuat mereka tertarik untuk melepas penyerang berusia 22 tahun ini. Padahal angka tersebut sudah cukup untuk mendatangkan tiga atau empat pemain baru yang bisa masuk ke skuat WBA.

Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Napoli. Memiliki Gonzalo Higuain, Napoli melakukan segala macam cara agar sang penyerang tidak digaet oleh klub lain. Presiden Napoli, Aurelio de Laurentiis, berani memasang buy-out clause pada Higuain hingga 67 juta poundsterling.

Tidak hanya di level klub, beberapa tim nasional saat ini pun tidak memiliki banyak opsi penyerang. Juara dunia 2014 lalu, Jerman, hanya membawa dua pemain yang memiliki posisi natural sebagai striker, yaitu Miroslav Klose dan Lucas Podolski. [Baca: Yang Tertinggal dari Pembinaan Pemain Muda Jerman]

Terlepas dari cara bermain Jerman yang mungkin tidak banyak membutuhkan peran penyerang tengah, namun saat ini Jerman memang tidak memiliki banyak opsi untuk mengisi posisi penyerang tengah mereka. Buktinya, Klose yang sudah berusia 36 tahun masih harus dipanggil kembali. Padahal Klose pun sudah bukan merupakan pilihan utama di klubnya, Lazio.



Penyerang menjadi makhluk yang sangat langka saat ini. Menurut Arsene Wenger, saat pertama kali datang ke Inggris untuk menangani Arsenal di tahun 1996, setiap klub pasti memiliki penyerang berbahaya. Penyerang yang memiliki kemampuan mencetak gol sangat baik. Hampir di setiap pertandingan ia akan mendapatkan saran dari stafnya untuk mewaspadai pemain lawan dengan kemampuan duel berbahaya dan sangat agresif. Namun kini, tidak semua tim memiliki pemain seperti ini.

Menurut Wenger, faktor akademi menjadi hal yang membuat penyerang menjadi makhluk yang langka. Saat ini, setiap pemain sepakbola Eropa akan langsung bergabung dengan akademi sepakbola tertentu sejak masih kecil. Di sana, mereka diberikan pelatihan dasar bermain sepakbola dari mulai mengoper, menendang, dan menggiring bola. Semua dilakukan dengan sangat terstruktur, dengan fasilitas lapangan yang sangat baik.

Berbeda dengan proses perkembangan pesepakbola di masa lalu. Mereka tidak langsung berlatih di akademi. Kebanyakan dari mereka lahir dari sepakbola jalanan, di mana mereka bermain tanpa pola latihan yang jelas, tanpa pelatih dan tanpa fasilitas lapangan yang baik.

Lantas yang menjadi pertanyaan, mengapa sistem yang terstruktur justru tidak bisa menghasilkan penyerang berkualitas? Apakah sistem yang dijalankan saat ini buruk?



Tidak juga. Secara garis besar, sistem akademi yang dimiliki Eropa bukan hal yang buruk. Buktinya tiga juara dunia terakhir saat ini adalah negara Eropa. Mereka juga tetap banyak menghasilkan pemain kelas dunia. Hanya saja, sebagian besar adalah pemain berposisi gelandang, pemain bertahan, atau penjaga gawang. Tidak banyak penyerang yang mereka hasilkan.

Terstrukturnya pembinaan yang dilakukan di akademi, serta sempurnanya fasilitas yang disediakan, menurut Wenger membuat anak-anak tidak banyak memiliki tempat untuk berkreasi. Setiap perkembangan yang terjadi sebagian besar adalah hasil rancangan dari tim pelatih, bukan hasil kreativitas sang anak. Anak-anak juga tidak dihadapkan dengan kondisi yang tidak menguntungkan, seperti lapangan yang tidak rata, atau ukuran lapangan yang tidak sesuai.

Arahan dari pelatih juga tidak membuat mereka banyak menerima sesuatu yang tidak terduga. Hampir semua pemain bertahan akan melakukan aksi bertahan sesuai arahan pelatih. Tidak ada pemain bertahan yang melakukan aksi bertahan asal-asalan yang membuat pemain depan harus bertarung lebih keras.

Hal inilah yang tidak di dapat anak-anak yang berlatih di akademi. Di jalanan, anak-anak bisa bermain dengan berbagai kondisi yang, dari mulai lapangan yang buruk, sampai bola yang tidak bulat sempurna. Mereka juga akan berhadapan dengan berbagai macam pemain bertahan, dari mulai yang menghadang secara elegan, hingga yang tidak pandang bulu.

Maka mau tidak mau, bermain di jalanan akan memaksa seorang anak untuk bertarung dalam kondisi apapun. Mereka harus bisa menghadapi kondisi seburuk apapun, dan tetap bermain dengan baik. Hingga akhirnya, tertanam mental seorang petarung dalam diri anak-anak tersebut. Satu nilai yang tentu sangat penting dalam diri seorang penyerang.

Karena itulah, saat ini kita lebih banyak mengenal penyerang kelas dunia yang berasal dari Amerika Latin. Negara-negara seperti Brasil, Argentina, Kolombia, dan Uruguay, masih belum banyak memiliki akademi berkualitas, sehingga banyak anak yang memulai permainan sepakbola dari jalanan.

Kita mengenal nama-nama seperti Sergio Aguero, Luis Suarez, Neymar, Lionel Messi, Alexis Sanchez, dan Falcao yang merupakan penyerang kelas dunia saat ini. Dan semua pemain tersebut berasal dari negara Amerika Latin. Penyerang tim nasional Spanyol, Diego Costa, juga merupakan pemain yang lahir di Brasil.

Jika melihat penyerang-penyerang top Eropa saat ini, mayoritas dari mereka juga lahir dari sepakbola jalanan. Cristiano Ronaldo selalu bermain satu lawan satu dengan kawannya di jalanan saat kecil. Begitu pula dengan Zlatan Ibrahimovic dan beberapa penyerang lainnya.



Meski tentu saja, sepakbola jalanan juga bukan suatu sistem yang sempurna. Serta sistem pendidikan di akademi juga bukan sistem yang harus segera ditinggalkan. Tidak sedikit pemain-pemain Amerika Latin dengan kualitas individu luar biasa, akhirnya tidak bisa berkembang di klub Eropa. Ketidakmampuan mereka dalam menjalani arahan pelatih membuat mereka tidak bisa bermain cemerlang.

Karena itu, sistem pendidikan akademi tentu satu hal yang tetap harus dipertahankan oleh negara-negara eropa. Hanya saja, sistem yang saat ini mereka miliki juga bukan merupakan sistem yang sudah sempurna. Ada satu bagian dari sistem yang harus dirancang kembali, agar nilai positif sepakbola jalanan bisa didapat oleh anak-anak di akademi. Dengan begitu, era kelangkaan penyerang ini tidak perlu berlanjut pada era kepunahan penyerang.


====

* Akun twitter penulis: @aabimanyuu dari @panditfootball
** Foto-foto: AFP/Getty Images


Nuhun for visit Fenomena Kelangkaan Penyerang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar